27-29 April 2017

TEA GARDEN RESORT – CIATER, SUBANG

PRESS RELEASE

Tahun penyelenggaraan ke 3 Eco Music Camp (EMC) ini seyogyanya menjelaskan bahwa Propinsi Jawa Barat menganggap pelestarian alam dan lingkungan hidup kita adalah masalah yang sangat penting. Eco Music Camp (EMC) adalah sebuah usaha menggunakan musik untuk menjangkau khalayak ramai, khususnya generasi muda agar menjadi perduli dan menjaga eco-system dimana mereka berada.

Oleh sebab itu semboyan EMC adalah: “Kita jaga Alam….Alam jaga Kita!”

 

MUSIK DAN ALAM

Musik dan alam adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Sejak dahulu nenek moyang bangsa Indonesia selalu mengambil inspirasi untuk menciptakan karya-karya musik mereka dari alam sekitarnya. Hal ini terutama terlihat dalam bentuk alat-alat musik purba yang ada di Indonesia.

Salah satu contoh alat musik purba adalah apa yang di kenal dengan istilah Stone Chimes atau batu renteng. Alat musik terbuat dari batu ini adalah alat musik tertua di dunia. Selain terdapat di Afrika, alat musik batu tsb baru-baru ini di temukan di situs purbakala Gunung Padang.

Fakta diatas tidak hanya menunjukkan bahwa alam raya dan musik memiliki hubungan yang erat, akan tetapi juga telah berlangsung selama ribuan tahun. Situs Gunung Padang di duga telah berusia lebih dari 15 ribu tahun. Peradaban megalitik yang masih ada hingga sekarang di Nias dan Toraja juga berusia ribuan tahun.

Selain Stone Chimes, alat musik tertua lainnya adalah alat musik yang terbuat dari bambu. Di Jawa Barat alat musik bambu menjadi ciri dari kebudayaan musik di wilayah ini. Salah satu jenisnya adalah alat yang bernama Karinding dan Angklung yang telah di nyatakan sebagai warisan kebudayaan dunia oleh UNESCO.

Baru-baru ini, sebuah desa bernama Jatiwangi yang terletak di Majalengka muncul sebagai sebuah kantong budaya baru di Jawa Barat. Salah satu produk mereka adalah membuat alat-alat musik yang menggunakan bahan tanah liat. Ini membuktikan bahwa alam masih tetap menjadi sumber inspirasi yang menentukan bagi para seniman musik di Jawa Barat. Dengan kata lain, musik dan alam masih merupakan kesatuan yang tak dapat di pisahkan dalam konteks peradaban manusia.

 

MUSIK DAN ALAM DI JAWA BARAT

Jawa Barat sendiri sejak dahulu terkenal sebagai wilayah yang hijau. Dikelilingi oleh pegunungan yang indah, di zaman kolonial Jawa Barat menjadi wilayah perkebunan teh yang menghasilkan devisa sangat besar. Sementara itu, wilayah pantai Jawa Barat juga merupakan wilayah pelabuhan yang pertama di Nusantara. Sejak abad kedua para penjelajah dunia dari Tiongkok sudah mencatat adanya hubungan internasional antara kerajaan di China dengan di Jawa Barat.

Thus hubungan internasional yang membangun peradaban di wilayah Jawa Barat ratusan tahun yang silam sebenarnya bertumpu pada kekayaan alam yang ada di wilayah ini. Kekayaan alam inilah yang membuat kebudayaan musik di Jawa Barat sangat beragam dan dinamis.

Keragaman musik di Jawa Barat ini dapat terlihat dari adanya pelbagai jenis musik yang masing-masing memiliki ciri khas tersendiri. Musik di wilayah pesisir seperti Cirebon, misalnya, memiliki ciri tangga-nada yang berbeda dengan tangga-nada musik Sunda.

Masuknya Islam dari wilayah pesisir membuat perbedaan karakter antara musik di wilayah pesisir dan pedalaman semakin kuat. Di samping musik aslinya yang tercermin dalam bentuk musik angklung buhun atau karinding (jews harp), wilayah pedalaman juga menunjukkan pengaruh musik Hindu yang datang dari India.

Dengan adanya pelbagai pengaruh dari luar ini, maka konstruksi budaya musik di Jawa Barat menjadi sangat unik dan beragam. Namun dewasa ini keunikan dan keragaman musik-musik di Jawa Barat semakin berkurang sejalan dengan berkurangnya kualitas lingkungan di wilayah ini. Kualitas bambu yang baik, misalnya, sudah sangat sulit di cari di wilayah ini.

Di samping itu, orientasi kehidupan urban membuat beberapa alat musik tradisional tertentu seperti tarawangsa dan karinding semakin jarang digunakan. Inilah yang menjadi bagian dari persoalan lingkungan hidup yang harus segera di carikan jalan keluarnya. Pendidikan formal saja tidak cukup untuk membangkitkan kesadaran masyarakat agar menjaga keseimbangan antara kehidupan sosial, ekonomi dan lingkungan hidup kita dengan sebuah landasan budaya yang kuat.

Di samping itu, keindahan alam di Jawa Barat juga dapat menjadi salah satu kekuatan pariwisata di wilayah ini. Pada tahun 2020 nanti akan ada kelompok yang di sebut Mass Afluent Society (MAS), yaitu kelompok generasi muda berduit dari seluruh negara-negara di dunia yang akan membelanjakan 450 milyar dolar untuk berdarmawisata ke pelbagai tempat.

 

Negara-negara Asia lain seperti Singapore dan China sudah melakukan investasi yang besar-besaran untuk menarik wisatawan muda dunia berkocek tebal ini datang ke negara mereka. China misalnya membangun apa yang mereka namakan dengan Music Valley dengan biaya 1 milyar poundsterling. Singapore menyuntik dana 900 juta dolar untuk mengembangkan strategi pemasaran pariwisatanya.

Indonesia sendiri tahun ini menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara sebesar 12 juta orang dan 20 juta orang pada tahun 2019. Namun tanpa adanya usaha investasi dan program pariwisata yang unggul kita akan kalah bersaing dengan negara-negara tadi. Oleh sebab itu, Pemerintah Propinsi Jawa Barat mengantisipasikan hal ini dengan mengkemas keindahan alamnya dan sekaligus menawarkan program-program eco-tourism serta wisata budaya yang menarik di tempat-tempat yang merupakan destinasi unggulan pariwisata Jawa Barat.

Dalam konteks inilah Disparbud Pemerintah Propinsi Jawa Barat menggagas sebuah festival musik, budaya dan lingkungan yang bernama ECO MUSIC CAMP (EMC) pada tanggal 27-29 April di Tea Garden Resort, Subang.

 

ECO MUSIC CAMP

ECO MUSIC CAMP (EMC) pada intinya adalah sebuah festival yang dirancang sebagai usaha untuk mempromosikan eco-tourism di Jawa Barat dan sekaligus mencari jalan keluar yang paling efektif dari permasalahan lingkungan hidup yang telah di uraikan sebelumnya. Oleh karena itu, EMC akan mengangkat tema ke aneka-ragaman hayati lingkungan hidup manusia dalam hubungannya dengan kegiatan budaya musik di seluruh dunia (world music) yang juga mencerminkan keragaman luarbiasa.

Artis yang akan tampil pada acara berskala internasional ini antara lain adalah: Sandhy Sondoro, Karinding Attack, Littlelute, Rumah Musik Harry Roesli (RMHR), INO Ensemble, dan Ambon Youth Brassband, Sedang dari luarnegeri akan tampil: Leanna Rachel seorang penyanyi folk dari Amerika dan DJ Kamau yang akan menggelar musik-musik Afrika dalam bentuk remix.

Selain pertunjukkan, EMC seperti biasanya juga akan mengajak para peserta untuk ikut dalam acara Workshop Musik Daur Ulang, olahraga Capoeira (Brasil), dan tarian Hip Hop. Di samping itu, EMC juga akan menggelar sebuah Talkshow dengan tema: Music & Sustainability yang akan di ikuti oleh para aktivis, ahli lingkungan hidup dan para artis yang sangat perduli dengan lingkungan hidup kita.

Thus di samping merupakan usaha untuk mendapatkan devisa dari sektor eco-tourism, EMC juga memiliki misi untuk menyadarkan generasi muda akan masalah-masalah lingkungan hidup dimana mereka berada.

Agar secara efektif dapat mencapai sasarannya, di lapangan EMC akan bekerja-sama dengan semua pihak yang berhubungan dengan masalah pelestarian lingkungan hidup. Pihak-pihak yang akan di ajak bekerja-sama ini antara lain adalah LSM lingkungan hidup, komunitas-komunitas yang perduli dengan lingkungan, sekolah-sekolah, perguruan tinggi, lembaga-lembaga nasional maupun internasional yang bergerak di bidang lingkungan hidup, dan para seniman musik, yang secara khusus mendedikasikan karya-karya mereka kepada masalah lingkungan.

 

Dengan mengajak semua pihak untuk bekerja-sama maka EMC akan memposisikan diri sebagai pusat kegiatan penyadaran lingkungan dan sekaligus juga dapat memberdayakan pihak-pihak ini untuk lebih jauh menjangkau sasaran mereka. Di tahun-tahun mendatang EMC di harapkan akan menjadi sebuah festival dengan tema world music dan lingkungan hidup yang terbesar di Asia.

Dengan demikian, Indonesia akan di kenal sebagai negara yang ikut serta berperan aktif dalam menyelamatkan bumi dari kepunahannya sebagai akibat dari pemanasan global (global warming) seperti yang telah di canangkan oleh Presiden RI di New York dan Wakil Presiden RI di Bali baru-baru ini. Propinsi Jawa Barat bertekad untuk menjadi propinsi yang paling depan dalam melaksanakan apa yang telah di janjikan oleh Presiden dan Wakil Presiden RI kepada dunia internasional.

Conceived & Produced by LOKASWARA

Presented by West Java Province