BANDUNG INTERNATIONAL DIGITAL ARTS FESTIVAL 2017

Dipersembahkan oleh Disbudpar Propinsi Jawa Barat

 

Selamat datang di era seni digital!

Perkembangan teknologi digital di abad ke 21 dewasa ini memasuki tahap yang sangat kompetitif. Dengan terbukanya kemungkinan bagi hampir setiap orang untuk memanfaatkan teknologi digital di manapun ia berada, maka belahan bumi Asia Tenggara tiba-tiba menjadi sorotan dunia.

Beberapa tokoh ekonomi bahkan meramalkan pada tahun 2025 ASEAN akan menjadi salah satu dari 5 besar wilayah ekonomi digital di dunia. Tiga faktor yang memungkinkan hal ini adalah: besarnya populasi generasi muda (40%), pertumbuhan ekonomi yang tajam dan pertemuan antara pelbagai inovasi di bidang teknologi.

Berbicara mengenai inovasi di bidang teknologi, negara supermaju seperti Amerika memiliki sebuah kebiasaan yang sangat menarik.Setiap kali NASA mendapatkan peralatan baru hasil dari penelitian dan perkembangan teknologi ruang angkasa yang sangat canggih mereka selalu meminta seorang seniman untuk terlebih dahulu menggunakan peralatan tsb untuk kreativitas kesenian. Dari hasil eksperimen para seniman ini baru mereka mendapat gambaran yang kongkrit bagaimana peralatan tsb dapat di gunakan untuk keperluan industri atau komersial.

Dalam konteks inilah peran para seniman akan sangat menentukan jika masyarakat ASEAN benar-benar bermaksud menciptakan revolusi digital pada tahun 2025 yang berpotensi untuk menyumbangkan tambahan devisa sebesar 1 triliun dolar di wilayahnya.

Yang menjadi pertanyaan penting bagi kita adalah bagaimana peran Indonesia sebagai negara yang terbesar di ASEAN dalam hal ini. Jika Indonesia tidak dapat menentukan posisinya dengan segera maka negara ini hanya akan menjadi sasaran pasar yang empuk bagi negara-negara ASEAN lainnya. Sebaliknya, jika Indonesia dapat menjadi ujung tombak dari ekonomi dan revolusi digital, maka negara-negaraASEAN yang lain juga akan mendapatkan keuntungan.

Dalam konteks pemikiran ini, Indonesia harus dapat menentukan dengan cepat dimana poros kreativitas digital teknologi akan terletak di negeri ini. Dengan karakteristik sebagai kota kreatif dan pelajar (college town) yang banyak berorientasi ke pendidikan teknologi, maka Bandung dapat menjadi poros kreativitas digital teknologi yang akan berperan menjadi pendorong revolusi digital bagi seluruh masyarakat di negeri ini.

Agarmenuju kearah itu Pemerintah Propinsi Jawa Barat berinisiatif untuk mulai menggerakkan naluri kreativitas generasi muda Jawa Barat melalui sebuah festival bernamaBandung International Digital Arts Festival atau BIDAF.

Tahun 2017ini BIDAF sudah menginjak tahun ke-empat. Sejak dari awal tahun pertama BIDAF sudah menekankan programnya tidak hanya pada aspek pencapaian kreativitas para seniman digital, akan tetapi juga aspek pendidikan seni digital itu sendiri. Pada tahun yang ke 4 ini BIDAF secara khusus bekerja-sama dengan Telkom University yang memiliki program pendidikan seni digital dan fasiltas paling unggul di Indonesia.

Di samping Telkom University, BIDAF juga mengajak perguruan tinggi lain di wilayah Jawa Barat seperti Universitas President, UNPAS dan ITB untuk berpartisipasi, baik sebagai peserta pameran dan pertunjukkan maupun sebagai observer.

Di luar bangku perguruan tinggi, BIDAF mengajak mereka yang berkecimpung langsung di bidang industri seni digital untuk memamerkan produk-produk mereka. Antara lain adalah: KUASSA yang memproduksi dan berhasil memasarkan software music mereka ke pasar internasional. Juga ada AINAKI, yaitu asosiasi pembuat seni ANIMASI Indonesia yang anggota-anggotanya sudah dapat ikut serta dalam produksi film-film animasi di dunia internasional.

Untuk memperlihatkan bahwa Seni Animasi juga merupakan sebuah genre seni digital yang serius, BIDAF ke-empat ini mengundang seorang seniwati animasi German Lili Voigt untuk memamerkan karya instalasi animasinya yang berjudul THE WALL. Karya ini merupakan highlight dari BIDAF 2017.

Di samping dunia industry, perkembangan seni digital di wilayah Jawa Barat ini secara menarik mendorong terbentuknya komunitas-komunitas anak muda yang bergerak di dunia seni digital. Oleh sebab itu, tahun ini BIDAF juga mengajak SPASIAL, tempat nongkrong komunitas anak muda digital di Bandung untuk bekerja-sama menyajikan sebuah OPEN STAGE untuk grup-grup musik elektronik yang ada di Indonesia. Mereka yang tertarik untuk ikut serta pada acara OPEN STAGE ini dapat tampil tanpa melalui proses seleksi di SPASIAL pada tanggal 6 Desember mulai Pk 16:00-22:00.

Sejak awal BIDAF juga merupakan sebuah festival internasional karena untuk bisa memantau perkembangan teknologi digital di negara maju, Indonesia harus membuka diri terhadap informasi digital dari dunia luar yang di tampilkan oleh tokoh seniman dunia dari negara-negara lain.

Di samping karya Lili Voigt tadi, BIDAF 2017 akan menampilkan karya-karya seniman dari Perancis yang menggunakan perangkat Virtual Reality, seniman dari Australia yang memenangkan perlombaan seni digital berjudul ModCons, dan seniman Filipina yang menekuni gabungan dari dunia video dan sonic art.

Seperti juga tahun-tahun yang lalu, BIDAF selalu meminta seorang seniman muda dan senior digital Jawa Barat untuk membuat karya yang khusus di pamerkan pertama-kalinya kepada publik di BIDAF. Kedua seniman ini adalah (1) Puncung yang akan menggarap karya instalasi cahaya, LED dan bunyi, serta (2) Dani Rachman yang akan memamerkan karya instalasi video interaktif yang menggunakan puluhan video monitor.

Pada dasarnya program BIDAF tahun 2017ini memiliki rangkaian yang sangat luas meliputi kegiatan seperti pameran, pertunjukkan, seminar, workshop, demo, dan expo pendidikan serta produk teknologi seni digital yang paling baru.

 

Selamat menikmati perkembangan seni digital dunia di abad ke 21.

 

Franki Raden, Ph.D.

Director

Bandung Int’t Digital Arts Festival 2017

Website: www.lokaswara.com&www.bidafest.com